Konvergensi dalam Telekomunikasi Modern,
Fixed maupun nirkabel dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari
Sejak dibukanya regulasi di dunia Telekomunikasi dengan UU No. 36 tahun 1999, maka laju pertumbuhan bisnis telekomunikasi semakin cepat dengan maraknya kehadiran operator-operator baru yang meramaikan dunia industri telekomunikasi di Indonesia. Sehingga dari hari ke hari persaingan di bisnis Telekomunikasi semakin terasa, dan memberikan banyak pilihan kepada masyarakat pengguna baik dari segi teknologi maupun dari segi biaya.
Dari sisi teknologi, beragam teknologi yang ditawarkan oleh para operator Telekomunikasi baik itu menggunakan teknologi fixed wireline/POTS (Plain Old Telephone System), fixed wireless (CDMA 1x-2000), maupun seluler (GSM dan CDMA EV-DO) masing-masing menawarkan jasa telekomunikasi dengan berbagai kelebihan dan juga kekurangan-nya. Dari sisi harga, berbagai macam cara pembayaran dengan menggunakan kartu prabayar maupun pascabayar adalah pilihan yang sudah seperti sebuah kewajiban untuk menjaring pelanggan sebanyak-banyaknya. Begitupun dengan varian layanan, semua operator berusaha mengakomodir kebutuhan pasar dari semua golongan, baik dari kelas pelajar, mahasiswa, pekerja, pebisnis, eksekutif bahkan juga kalangan ekonomi lemah seperti buruh, dan pembantu rumah tangga juga tak luput dari sasaran mereka.
Selain kondisi layanan dari para operator, dukungan vendor Telekomunikasi dengan pengadaan handset dengan beragam fitur dan varian harganya, juga semakin memudahkan masyarakat pengguna untuk memilih handset sesuai dengan keperluannya sehari-hari. Dengan fitur yang semakin banyak dalam satu perangkat telekomunikasi, menjadikan perangkat tersebut menjadi sebuah perangkat multifungsi sehingga semakin bisa mengadopsi berbagai layanan telekomunikasi sebagai sebuah layanan yang konvergen, selain juga sebagai sebuah pelengkap gaya hidup (life style) dan juga fashion bagi sebagian masyarakat pengguna di Indonesia,
Masyarakat Pengguna vs Konvergensi
Untuk memetakan pemanfaatan Teknologi Telekomunikasi sebagai sebuah layanan yang konvergen, penulis akan membagi segmentasi pengguna layanan ke dalam 3 kategori pengguna Layanan Telekomunikasi.
Secara umum, segmentasi masyarakat pengguna layanan Telekomunikasi di Indonesia berdasarkan jasa layanan telekomunikasi yang digunakan dapat digolongkan sebagai berikut :
- Basic User
- Intermediate User
- Advance User
1. Basic User
Masyarakat pengguna pada kelompok ini, umumnya menggunakan perangkat telekomunikasi wireless/seluler dengan menggunakan handset low-end untuk memenuhi kebutuhan telekomunikasi dasar seperti voice call dan SMS saja. Biasanya kelompok pengguna ini menggunakan nomor pra-bayar dari operator yang menawarkan masa tenggang kartu yang panjang, dan mereka tidak terlalu loyal terhadap satu operator, tetapi tergantung dari penawaran operator yang paling memberikan banyak keuntungan, dan sering berganti nomor karena masa tenggang kartunya habis sebelum sempat diisi ulang.
Begitupun dengan layanan fixed wireline (POTS), mereka kebanyakan hanya menggunakannya untuk kebutuhan incoming call dan outgoing call lokal. Untuk interlokal (SLJJ) mereka biasanya cenderung menggunakan jasa wartel, dan kebanyakan masih belum melek dengan teknologi internet sehingga belum membutuhkan layanan yang berbasis internet, baik dengan menggunakan layanan publik seperti warnet, maupun layanan internet melalui telpon fixed maupun nirkabel (wireless CDMA ataupun GSM).
2. Intermediate User
Masyarakat pengguna pada kelompok ini umumnya sudah menggunakan layanan telekomunikasi wireless/seluler dengan menggunakan handset yang menawarkan fitur yang lebih banyak. Meskipun kebanyakan handset yang digunakan belum mendukung konvergensi layanan Telekomunikasi dan hanya cuma sebagai asesoris pendukung saja seperti kamera, radio FM atau MP3 player yang lebih bersifat aplikasi stand-alone sekedar pelengkap gaya hidup dan gengsi.
Meskipun ada juga masyarakat pengguna kelompok ini yang sudah menggunakan handset kelas smartphone atau PDA phone yang mendukung konvergensi layanan telekomunikasi, multimedia dan internet dengan fasilitas seperti GPRS, bluetooth/infra-red, dan WiFi tetapi kebanyakan hanya digunakan pada saat-saat tertentu saja misalnya untuk mengirim MMS pada saat lebaran atau jika ada acara khusus seperti ulang tahun atau pernikahan.
Kartu yang digunakan pada kelompok ini sebagian sudah menggunakan kartu paska bayar, meskipun umumnya mereka masih menggunakan kartu pra-bayar tetapi secara loyalitas jauh lebih baik daripada kelompok basic user, dan umumnya mereka mempunyai satu nomor dan handset lain dari provider yang berbeda baik itu GSM atau pun CDMA.
Dari sisi fixed phone (POTS) selain digunakan untuk incoming call, mereka juga menggunakannya untuk melakukan outgoing call lokal dan SLJJ. Selain itu kadang-kadang mereka juga menggunakannya untuk melakukan koneksi dial-up internet ke ISP (Internet Service Provider) lokal.
3. Advanced User
Kelompok ini adalah kelompok dengan lolayitas yang paling tinggi terhadap operator telekomunikasi yang digunakan. Kelompok ini umumnya adalah eksekutif ataupun pebisnis yang karena kesibukan dan aktifitasnya diluar kantor, maupun pada saat perjalanan bisnis baik di dalam maupun di luar negeri membutuhkan handset sebagai organiser dan alat bantu untuk tetap dapat berhubungan dengan koleganya seperti saat berada di kantor. Kalaupun mereka tidak menggunakan perangkat tersebut sendiri, paling tidak mereka mempunyai sekretaris yang dilengkapi dengan perangkat telekomunikasi yang sudah mendukung konvergensi layanan telekomunikasi, sehingga untuk kebutuhan yang simpel seperti membaca e-mail atau mengirim laporan kecil dapat dilakukan dengan bantuan PDA-phone ataupun smartphone yang sudah dilengkapi aplikasi word processor dan spread-sheet mini.
Bahkan untuk te
tap dapat menerima e-mail corporate dimanapun mereka berada, mereka juga melengkapi layanan push mail di dalam perangkat PDA-phone ataupun smartphone mereka.
Disisi layanan POTS, kelompok pengguna ini lebih sering menggunakannya untuk melakukan panggilan SLJJ dan SLI. Selain itu mereka juga menambahkan fasilitas ADSL untuk koneksi internet broadband di rumah, sehingga teknologi VoiP juga sering digunakan untuk berhubungan dengan kenalan atau kerabat mereka diluar negeri. Sedangkan untuk sebagian lagi, masih menggunakan layanan POTS yang dilengkapi mesin FAX untuk urusan surat menyurat dengan kolega atau rekan bisnis di dalam dan luar negeri.
Berdasarkan uraian diatas, dapat dillilhat bahwa konvergensi layanan telekomunikasi baru dapat dirasakan manfaatnya oleh sedikit kelompok masyarakat pengguna di kelas anvance user. Untuk kelompok Intermediate user, meskipun secara teknologi perangkat yang digunakan sebagian sudah dapat mendukung layanan dengan konvergensi telekomunikasi tapi penggunaannya baru sebatas untuk pemenuhan gengsi saja.
Dari definisi mengenai masyarakat pengguna telekomunikasi diatas, jelas bahwa konvergensi layanan telekomunikasi belum merata, hal ini antara lain disebabkan karena biaya yang dibutuhkan untuk menikmati layanan tersebut masih cukup mahal bagi kebanyakan orang untuk kondisi seperti di Indonesia sekarang ini.
Fixed vs Nirkabel
Dari sisi teknologi, semakin banyak pilihan yang bisa didapatkan oleh masyarakat pengguna untuk mendapatkan layanan telekomunikasi yang sesuai dengan kebutuhan dan budget belanja bulanan. Karena dihadapkan dengan berbagai macam pilihan, seringkali pula teknologi yang digunakan saling melengkapi sesuai dengan kebutuhan sehari-hari sehingga kadang-kadang seseorang mempunyai beberapa nomor yang digunakan sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Fixed
Layanan fixed phone atau yang biasa disebut sebagai POTS (Plain Old Telephone System) yang sudah lebih awal disediakan oleh operator incumbent, agaknya sudah mulai dilihat sebelah mata oleh masyarakat pengguna dan operator lain yang baru muncul belakangan. Tetapi dengan ditemukannya teknologi xDSL, ternyata keterbatasan layanan fixed phone yang menggunakan teknologi akses tembaga yang konvensional masih dapat ditingkatkan untuk layanan komunikasi data secara simultan sampai dengan bandwidth 2 Mbps.
Secara signifikan teknologi xDSL dapat meningkatkan kemampuan akses jaringan tembaga dari layanan POTS eksisting menjadi akses tembaga untuk layanan Broadband Multimedia, Internet bahkan TV berbasis IP yang dapat terkoneksi setiap saat ke rumah-rumah, atau populer dengan sebutan Layanan Triple Play. Dengan menambahkan perangkat modem Wireless bahkan dapat digunakan sebagai akses point Wi-Fi di rumah sehingga kelompok intermediate user yang sudah melek internet dapat menggunakan handset smartphone ataupun PDA-phone nya untuk sekedar browsing, chatting atau pun melakukan voice call menggunakan layanan VOIP gratis di internet, sehingga kemungkinan bisa segera bertransformasi menjadi Layanan Quad (4) Play.
Kedepan masyarakat juga akan dapat menggunakan jaringan akses tembaga yang sebelumnya berbasi POTS, menjadi layanan dengan teknologi yang lebih advance seperti ADSL2+ yang menawarkan bandwith yang lebih besar dengan biaya yang akan semakin murah.
Teknologi Metro Ethernet dengan kapasitas bandwidth yang sangat besar sampai dengan orde GigaBit mungkin akan segera dapat dinikmati oleh kelompok advanced user, yang kebanyakan adalah eksekutif dan pebisnis yang mungkin bertempat tinggal di apartemen atau di perumahan mewah yang mempunyai daya beli yang tinggi.
Sehingga layanan berbasis IP Phone dengan fitur seperti video-phone dan layanan interaktif lainnya dapat dilakukan, begitupun dengan sarana hiburan yang dapat menggunakan IP-TV dan Video on Demand, serta fasilitas lainnya yang dapat ditumpangkan ke jaringan IP seperti IP-Video Surveillence dan kelengkapan Smart Home lainnya yang berbasis IP.
Nirkabel / Wireless
Terminologi nirkabel/wireless sebenarnya sangat luas jika mau diterjemahkan secara teknologi keseluruhannya, tetapi dalam bisnis telekomunikasi yang dikenal secara luas oleh masyarakat pengguna telekomunikasi adalah teknologi telekomunikasi selular berbasis GSM, dan atau CDMA. Selain itu teknologi Wi-Fi atau Hotspot juga sudah mulai banyak disediakan oleh operator telekomunikasi selain oleh ISP (Internet Service Provider) sebagai komplementari layanan telekomunikasi dasar mereka, kalau tidak mau disebut sebagai konvergensi layanan operator telekomunikasi.
Saat ini layanan telekomunikasi dasar yang sudah dapat dinikmati luas oleh masyarakat pengguna layanan telekomunikasi berbasis GSM adalah layanan GSM Generasi ke 2.5 (2.5 G), yang dilengkapi akses GPRS untuk keperluan koneksi internet dan data (multimedia) dengan kecepatan dan bandwidth yang terbatas. Sedangkan teknologi GSM generasi ke-3 (3G), masih dalam taraf percobaan sebelum resmi di jual ke masyarakat pengguna layanan telekomunikasi, dengan kecepatan dan bandwidth yang dapat mencapai 2 Mbps, sehingga diharapkan dapat menghadirkan layanan video-call interactive dan layanan multimedia dan internet berkecepatan tinggi. Mahalnya tarif GPRS bagi kebanyakan masyarakat pengguna layanan telekomunikasi GSM di Indonesia, juga masih menyisakan keraguan bagi masyarakat pengguna terhadap tarif layanan 3G yang akan segera diluncurkan, yang belum tentu lebih murah daripada tarif GPRS sebelumnya.
Meskipun baru muncul belakangan, tetapi layanan telekomunikasi berbasis CDMA ini sudah dapat menyajikan layanan komunikasi data dan internet sekelas GSM 2.5G pada teknologi CDMA 1X-2000, dan layanan komunikasi data dan internet sekelas GSM 3G pada teknologi CDMA EV-DO dan EV-DV. Secara perlahan teknologi ini mulai diminati masyarakat karena tarif-nya yang sangat murah karena diposisikan sebagai layanan telekomunikasi fixed wireless (limited mobility) dengan tarif layanan komunikasi data dan internet yang juga lebih murah dari tarif GPRS pada GSM. Sayangnya, tidak banyak vendor yang menawarkan handset kelas high-end dengan fitur yang mendukung layanan konvergensi komunikasi data dan suara dengan teknologi CDMA dan masih mahalnya handset CDMA dibandingkan dengan GSM sehingga kemungkinan ikut mempengaruhi jumlah masyarakat pengguna yang memanfaatkan konvergensi layanan pada teknologi CDMA ini.
Selain kedua teknologi wireless/seluler yang sudah banyak dipakai luas oleh masyarakat pengguna layanan telekomunikasi di Indonesia, teknologi WiFi baru dipakai sebagai layanan komplementer oleh beberapa operator telekomunikasi sebagaI layanan yang mendukung ke arah konvergensi teknologi, selain sebagai trend gaya hidup yang semakin dikenal seiring bertambahnya jumlah pusat perbelanjaan dan kafe yang menawarkan akses WiFi gratis maupun berbayar.
Sayangnya teknologi ini tidak dapat dikembangkan secara massal dan terbuka karena regulasi yang mengatur penggunaan frekwensi WiFi (2.4 GHz) secara terbatas baik secara jangkauan maupun penggunaannya untuk kepentingan komersial.
Teknologi yang kelihatannya akan menjadi momok menakutkan bagi para operator Telekomunikasi dan ISP (Internet Service Provider) adalah teknologi WiMax, yang pada dasarnya mirip dengan teknologi WiFi tetapi dengan jangkauan sinyal frekuensi yang lebih luas. Sehingga jika teknologi ini sudah tergelar, maka siapapun dapat menggunakannya untuk mendapatkan koneksi data dan internet, bahkan dapat digunakan untuk menggunakan panggilan VOIP kemanapun dengan menggunakan VOIP handset yang terkoneksi dengan operator VOIP seperti Skype. Sehingga ada yang menyebutkan bahwa teknologi WiMax adalah layanan telekomunikasi generasi ke-4 (4G), yang mendukung konvergensi layanan telekomunikasi dan data secara lebih nyata. Bahkan iklim ’konvergensi’ ini juga dirasakan dari sisi bisnis, sehingga kalangan pengusaha ISP sejak dini meng-klaim bahwa mereka lebih berhak untuk mendapatkan lisensi WiMax daripada operator Telekomunikasi. Padahal selama ini tanpa disadari oleh kalangan ISP, para operator Telekomunikasi selama ini juga sudah berperan sebagai ISP. Sehingga kedepan kelihatan bahwa bisnis ISP juga tidak bisa dilepaskan dari bisnis operator Telekomunikasi sebagai revenue generator dan layanan pendukungnya.
Killer Application
Selain teknologi infrastruktur telekomunikasi yang telah dijelaskan diatas, ada hal lain yang juga mendasari terjadinya konvergensi layanan telekomunikasi yang akan disajikan kepada masyarakat luas yaitu aplikasi.
Sampai saat ini belum banyak aplikasi yang benar-benar dapat menjembatani semua layanan yang menuju ke arah konvergensi layanan Telekomunikasi. Meskipun beberapa perusahaan seperti Yahoo, Skype, dan lain-lain yang sudah mencoba memberikan aplikasi gratis kepada masyarakat dunia dan sudah sangat populer, tetapi masih diperlukan sebuah aplikasi yang benar-benar terintegrasi dengan semua sistem telekomunikasi umum untuk mendukung konvergensi layanan Telekomunikasi secara luas.
Selain itu, untuk memberikan tarif yang murah kepada masyarakat pengguna secara luas juga diperlukan dukungan konten lokal yang dapat mengakomodasi kebutuhan masyarakat banyak dan mereduksi cost yang menjadi beban operator untuk koneksi bandwith internasional. Sehingga peranan content provider menjadi penting untuk memperkaya layanan yang dapat dinikmati dan dimanfaatkan sebagai layanan Telekomunikasi yang konvergen.
Kesimpulan
Berdasarkan apa yang diutarakan penulis, konvergensi berupa penggunaan sebuah alat untuk mendapatkan beberapa layanan yang berbeda dalam suatu Layanan Jasa Telekomunikasi saat ini baru dapat dinikmati oleh kalangan terbatas karena faktor harga yang masih belum dapat dicapai oleh kebanyakan masyarakat pengguna layanan Telekomunikasi di Indonesia.
Kemudian dari berbagai macam Teknologi Telekomunikasi yang berkembang semakin cepat, semakin banyak pilihan teknologi baru yang cenderung mengarah ke harga layanan yang lebih murah.
Konvergensi layanan dari sisi teknologi telekomunikasi GSM generasi ke-3 (3G) dengan fitur tambahan layanan data dan internet yang lebih cepat sebentar lagi akan dapat dinikmati oleh masyarakat pengguna layanan telekomunikasi yang mempunya daya beli yang kuat.
Sementara itu teknologi informasi, data dan internet dengan menggunakan teknologi WiMax juga akan dapat mengakomodir kepentingan jasa telekomunikasi dasar seperti voice-call dan juga video-call dengan harga yang mungkin lebih tercapai oleh masyarakat kebanyakan. Dengan dukungan teknologi akses xDSL dan semakin kayanya muatan lokal (local content), layanan fixed phone akan tetap menjadi favorit untuk akses internet broadband yang semakin murah. Sedangkan teknologi metro ethernet juga akan memanjakan user dengan aplikasi multimedia yang lebih bersifat entertaintment dan interaktif.