Wah sebenernya hasrat utk nulis udah dari kemaren2 nih, cuman kayaknya inspirasinya baru mulai meledak2 sekarang…..banyak sebenernya yg mo gw tulis, tentang acara di TV, berita di media, dan banyak hal yg menari-nari di benak gw.
Mudah2an ini bisa jadi pembelajaran gw utk jadi terbiasa menulis, jadi gw bisa ’retire young, retire rich…’ begitu klo gak salah judul salah satu bukunya Robert Kiyosaki…, jd gw gak perlu kerja dan berangkat pagi2 lagi, tinggal pensiun muda sambil nulis buku pagi2 bisa ngupi sambil makan pisang goreng dan sarungan di teras gitu sambil menikmati sejuknya udara pagi dan kicauan burung di setiap hari….he…he…masih bisa gt gak ya di jakarta…?? Yg ada paling juga teras yg gersang dan gak nyaman di dudukin karena debunya gak pernah disapu, sama suara2 tukang sayur, tukang daging, loper koran, tukang roti, dll yang pagi2 udah sibuk keliling nawarin dagangannya, juga suara mobil tetangga yg tiap pagi dipanasin dg menderu2. Yah sutra-lahhh…, yg penting sekarang gw nyoba dulu nulis2 iseng yg enteng2 aja dulu…..
Mo mbahas yg pertama tentang berita di media dulu ya…., untung baru dapet Business Week Indonesia edisi gratisan dari kantor kemaren, yg meskipun tipis tapi artikelnya cukup menarik…dg harga 22.500 perak kalo beli ndiri lumayan mahal untuk sebuah majalah mingguan menurut gw, so biasanya gw suka hunting ke kios majalah gang senggol di jalan sabang yg njual majalah ini cebanan klo udah lewat jadwal minggu penerbitan-nya.Untuk edisi minggu 15-22 November ini BWI mengangkat topik utama ttg ‘Kapitalisme Karma’, tp bukan itu yg menarik perhatian gw…tp justru rubrik2 kecil yg ditulis singkat satu halaman saja.
Yg pertama adalah rubrik MediaCentric oleh Tom Lowry yg mungkin terjemahan dr majalah BW aslinya, yg membahas ttg kegagalan ESPN dengan produk ESPN Mobile-nya yg membuat perusahaan itu menghentikan produk layanan seluler-nya itu meskipun sudah menghabiskan dana 150 jt USD.
Yg kedua rubrik resensi buku oleh Tom Perkins, seorang pemodal ventura dari Silicon Valley dan mantan anggota dewan direksi Hewlett-Packard yg membahas buku ‘Tough Choices : a memoir’ sebuah otobiografi atau apalah namanya yg ditulis oleh Carly Fiorina, seorang mantan CEO Hewlett-Packard yg sukses membangkitkan HP dg mengakuisisi Compaq dan mengalahkan IBM dan Dell…., serta menjungkirbalikkan tradisi HP yg dibangun dg kerja keras dari sebuah garasi oleh para pendirinya Bill Hewlett dan Dave Packard yg disebut dengan ‘The HP Way’ yg kebetulan bukunya pernah gw baca.
Yg ketiga adalah sebuah kolom kecil di rubrik Kilas Bisnis tentang Telekomunikasi yg masih akan booming di Indonesia yg mengutip statement Hasnul Suhaimi, Presdir XL yg juga mantan Dirut ISAT, ttg peningkatan pendapatan usaha bruto-nya sebesar 59% menjadi Rp. 1,54 T , dengan laba bersih TW-III sampai Rp.142 M dan jumlah pelanggan naik 43% menjadi 8,4 jt pelanggan. Sementara ISAT, perusahaan yg ditinggalkannya, tertahan di angka 14 juta pelanggan. Dan TSEL sang Market Leader yg mencapai kenaikan 36% dr periode yg sama th lalu dg pendapatan bersih 24,98 T dan jumlah pelanggan 32,47 jt pelanggan dari 24,3 jt pelanggan dr ahir 2005.
Ketiga hal tersebut, mengingatkan gw akan kondisi TLKM, perusahaan tempat gw bekerja sekarang. Pertama, kasus gagalnya ESPN membuktikan bahwa bisnis telekomunikasi adalah bukan bisnis main-main dan dijadikan bisnis sampingan, atau secondary bussines. Meskipun ESPN berjaya di bidang media dengan content yg spesifik olah-raga, ketika dia maruk mau menjadi operator seluler dengan positioning product yg spesifik dengan content olah raga-nya, toh orang amerika yg sport maniac-pun akan berpikir dua kali untuk berlangganan ESPN mobile. Jadi apa daya, ceruk market yg berusaha dimanfaatkan ternyata hanyalah sebuah ceruk sempit yg tidak terlalu dalam untuk di eksplor lebih jauh.
Di Indonesia, TLKM sebagai incumbent operator telekomunikasi yg mempunyai beberapa anak perusahaan sejenis, akhirnya harus rela melepaskan mereka satu persatu supaya nggak terlalu ngrecokin bisnis utama induk-nya sendiri. So perusahaan2 di
Indonesia
yg tergiur manisnya bisnis Telekomunikasi, padahal core business-nya bukan disitu, siap2 saja merasakan pahitnya bisnis ini. Sebut saja seperti Lippo dengan Lippo Telecom, Bakrie dengan Esia, Sampoerna dengan Sampoerna Telecom, Bimantara dengan Mobile-8, PLN dengan ICON+, bahkan perusahaan pakan ternak dari Thailand, Charoen Phokphand yg menggandeng Hutchinson Telecom dr Hongkong, juga ingin mencicipi manisnya bisnis Telekomunikasi di negeri ini dengan membeli lisensi 3G di Indonesia dan mungkin akan segera launching tahun depan, yaahh siap2lah menelan pil pahit seperti ESPN. Karena faktanya, teledensitas yg masih satu banding sekian banyak orang itu, tidak terjadi di Jakarta dan kota-kota besar lainnya yg sudah diperebutkan oleh bbrp operator dominan saja…., sehingga ceruk pasar dan blue ocean yg diharapkan tampaknya hanya ada di daerah2 yg secara geografis sulit dijangkau dengan daya beli, dan tingkat kebutuhan telekomunikasinya masih rendah bahkan tidak ada….so mau berharap market share yg besar dengan cita2 menjadi kontributor penyumbang angka teledensitas yg mendekati singapur atau malaysia mungkin akan lebih susah daripada mengajak orang baduy pake alas kaki dan baju warna-warni, atau mengajak orang asmat pake celana.
Yg kedua, mengenai HP mengingatkan pada kondisi perusahaan tempat gw bekerja saat ini, TLKM, dimana Dirut yg saat ini berasal dari luar dengan latar belakang di bidang yg berbeda memang keliatannya cenderung akan mendapatkan resistensi dari lingkungan yg pro status quo. Padahal dalam historisnya TLKM mengalami perubahan dan kemajuan yg signifikan pada saat dipimpin oleh Cacuk Soedarjanto (alm), yg nota bene adalah bukan orang dalam TLKM….seorang Insinyur lulusan ITB jurusan tambang, dan berkarir di IBM. Saat itu dengan
gaya
kepemimpinannya beliau sukses melipatgandakan semangat karyawan, yang kemudian ber-implikasi pada kinerja perusahaan dan Take Home Pay yg didapat oleh karyawan pada saat itu.
Kondisi saat ini, mungkin sudah berbeda…output hasil perjuangannya Pak Cacuk sudah berbuah, sehingga sudah banyak anak2 bau kencur spt gw yg dulu mendapatkan kesempatan di sekolahin gratis sekarang sudah banyak yg menjabat sampe level AVP segala. Jadi gak perlu diragukan lagi udah banyak orang yg mumpuni secara teknis di TLKM. Masalahnya, cuma sedikit orang yg ngerti masalah bisnis di TLKM dan menurut gw adalah tepat menempatkan orang dengan latar belakang perbankan yg tentunya banyak berhubungan dengan eksekutif perusahaan lain yg menjalankan bisnisnya dengan perantara perbankan. Mungkin besok-besok diperlukan Dirut dengan latar belakang HRD sehingga pola karir, dan penempatan posisi karyawan sesuai dg kompetensinya, shg ‘the right man, on the right job’ dapat berjalan berjalan dengan lebih baik.
HP awalnya gw kenal dengan dg produk2 printer-nya, kemudian perkenalan dilanjutkan dengan produk2 electrical measurement equipment-nya yg ternyata adalah produk core bussiness-nya di masa lalu, yg akhirnya sekarang berubah brand-nya menjadi Agilent. Sementara brand HP tetap dipakai untuk produk2 berbasis IT, sesuatu yg menjadi revenue generator baru bagi banyak perusahaan dan menjadi trend bisnis global sampai saat ini. Begitupula dengan TLKM, yg awalnya cuma dikenal dengan layanan POTS (Plain Old Telephone System), sekarang mulai dikenal juga layanan yg lainnya seperti TV Cable, VoIP, seluler, CDMA, Frame Relay, VPN-IP, Internet, xDSL, dll. Kedepannya juga akan ada Metro Ethernet, IPTV, Video On Demand, dll. Masalahnya teknologi ini cuma akan tinggal nama kalau tidak bisa dikemas sebagai produk dan layanan yg mempunyai nilai jual sebagai produk yg telah siap pakai oleh end user-nya. Dengan pola bisnis yg tidak bisa lagi mengandalkan gaya monopolistik seperti di masa yg lalu, diperlukan kepemimpinan yg mengerti akan iklim bisnis lokal maupun global untuk bisa bersaing dan tetap menjadi Market Leader di negeri sendiri, maupun cita-cita ke arah regional.
Yg terakhir mengenai statement Hasnul Suhaimi, yg secara tersirat menyatakan XL siap menjadi player telekomunikasi dominan di
Indonesia
, setidaknya siap menggantikan ISAT di posisi kedua. Secara teoritis tak terlalu sulit bagi Hasnul yg juga mantan orang nomor satu di ISAT untuk memetakan peta kekuatan lawannya itu sekarang. Apalagi pasca cross-ownership selling antara TLKM-ISAT, sehingga bbrp saham Satelindo menjadi 100% milik ISAT, begitupula dg saham anak perusahaan lain seperti Lintas Artha. Langkah ISAT semakin berat dan limbung dg bertambahnya jumlah beban operasionalnya setelah bergabungnya Satelindo, belum lagi dg bisnis utamanya sbg operator SLI yg awalnya sebagai revenue generator utama, sekarang kondisinya semakin stagnan atau bisa dibilang mulai memasuki fase declining dengan banyaknya operator VoIP baik yg legal maupun ilegal yg menawarkan berbagai kemurahan utk berkomunikasi ke seluruh dunia. Setali tiga uang dengan bisnis selulernya yg semakin tidak fokus dengan banyaknya produk yg ditawarkan dengan berbagai brand-name, mulai dari awalnya IM3 Bright, IM3 Smart, Satelindo Matrix, dan Satelindo Mentari serta ISAT SLI 001 dan Satelindo SLI 008 yg kemudian berubah menjadi Matrix dan Mentari dengan slogan ‘Punya ISAT’ tampaknya belum berhasil mendongkrak posisioning-nya sebagai produk unggulan….malah semakin terkesan sebagai produk murahan dg banyaknya diskon dan undian yg ditawarkan. Padahal bukan itu yg semata2 dibutuhkan oleh customer, sehingga makin lama kelihatan ARPU (average revenue per user) mereka tidak menunjukkan tanda2 kenaikan, malah mungkin semakin berkurang.
Di bisnis fixed phone, brand i-phone yg juga kurang dikenal luas ternyata juga belum bisa memuaskan pelanggan existing-nya sehingga banyak gedung yg tenant-nya lari karena kualitas fasilitas telekomunikasi di gedungnya tidak memuaskan, begitupula dengan kualitas ISDN yg mereka jual, yg meskipun harganya lebih mahal tetapi kualitasnya belum sebanding dengan harganya. Bisnis CDMA ISAT dengan brand Star-One yg sudah di blow-up dengan banyaknya promo di media, setelah bbrp tahun ternyata sampai sekarang juga belum ada gaungnya bahkan di
kota
besar seperti
Jakarta
. Bahkan pamornya kalah oleh operator CDMA lain seperti Esia atau Mobile-8, bahkan jauh ditinggalkan oleh Flexi sang market leader yg meskipun sudah bikin gerah BRTI, tetapi sudah keburu mengundang banyak pelanggan baru untuk mencoba layanan Flexi Combo-nya. Di bisnis multimedia, nama IM2 dan produk IndosatNet juga semakin tidak populer, jauh ditinggalkan oleh para rivalnya yg memanfaatkan teknologi ADSL bekerjasama dengan TLKM yg jg menawarkan brand Speedy yang menawarkan broadband Internet dengan kecepatan yg lebih tinggi dan kualitas yg reliable (meskipun masih sering di komplain), dibandigkan dengan wireless internet yg mereka tawarkan.
So belajar dari pengalaman dan kondisi-kondisi di atas bisa terlihat bahwa banyak faktor yg mempengaruhi jatuh bangunnya bisnis yg berbasis teknologi tinggi, meskipun dengan dukungan modal yg kuat belum tentu suatu perusahaan akan dapat memenangkan persaingan jika tidak dapat fokus pada bisnis utama, serta faktor kepemimpinan yg dapat melihat ke arah perubahan yg jauh kedepan melebihi lompatan teknologi yg menjadi bisnis utamanya itu sendiri.